Pemilik Pangkalan Ungkap Kelangkaan Minyak Tanah di Ambon

Berita Ambon, Berita Maluku Ambon, Maluku (MataMaluku) – Kelangkaan minyak tanah bersubsidi di Kota Ambon disebut masih sering terjadi. Kondisi tersebut terungkap dari hasil pantauan Tim DMS Group di Pangkalan Haji Doloh milik Ibu Idah yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, tepat di depan Pelabuhan Kecil Ambon, Jumat (7/8/2026). Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas pembelian minyak tanah berlangsung cukup ramai. Warga terus berdatangan untuk membeli minyak tanah, termasuk masyarakat dari luar wilayah sekitar pangkalan yang mengaku kesulitan memperoleh minyak tanah di tempat lain. Pemilik Pangkalan Ibu Idah, mengatakan peningkatan permintaan mulai dirasakan sejak memasuki awal Agustus. Menurutnya, banyak pembeli baru yang datang ke pangkalannya sehingga stok minyak tanah yang diterima jauh lebih cepat habis dibandingkan hari-hari sebelumnya. “Bulan Agustus ini tiba-tiba banyak sekali yang cari. Wajah-wajah baru yang bukan warga sekitar sini ikut datang membeli,”ujar Ibu Idah kepada. Ia menjelaskan, sebagian besar pembeli yang datang bukan merupakan pelanggan tetap. Banyak warga dari wilayah lain di Kota Ambon memilih membeli di pangkalannya karena kesulitan mendapatkan minyak tanah di daerah tempat tinggal mereka. Meski permintaan meningkat, Ibu Idah memastikan pasokan dari agen tetap berjalan sesuai jadwal. Dalam satu bulan, pangkalan menerima distribusi sebanyak dua kali dengan alokasi masing-masing 10 drum sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, tingginya permintaan membuat persediaan minyak tanah tidak lagi mampu bertahan lama. Jika sebelumnya satu kali pasokan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat selama dua hingga enam hari, kini stok tersebut jauh lebih cepat habis. “Biasanya stok bisa bertahan beberapa hari, tapi sekarang lebih cepat habis karena yang datang membeli semakin banyak,”ungkapnya. Untuk menjaga pemerataan distribusi, pihak pangkalan membatasi penjualan maksimal 20 liter kepada setiap konsumen. Kebijakan itu diterapkan agar minyak tanah bersubsidi dapat dinikmati lebih banyak masyarakat dan tidak dikuasai oleh segelintir pembeli. “Kalau tidak dibatasi, nanti ada warga yang tidak kebagian. Karena itu setiap orang kami batasi maksimal 20 liter supaya semua bisa dapat,”jelas Ibu Idah. Ia juga menegaskan harga jual minyak tanah di pangkalannya tetap mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah, yakni Rp20.000 untuk setiap lima liter. Pihaknya tidak menaikkan harga meskipun permintaan masyarakat mengalami peningkatan. “Harga tetap sesuai HET, Rp20 ribu untuk lima liter. Kami tidak pernah menaikkan harga meskipun permintaan sedang tinggi,”tegasnya. Ibu Idah berharap pemerintah daerah bersama Pertamina dan agen penyalur dapat terus menjaga kelancaran distribusi minyak tanah bersubsidi. Menurutnya, apabila tingginya permintaan terus berlangsung tanpa penyesuaian distribusi, kondisi kelangkaan minyak tanah dikhawatirkan akan terus berulang di sejumlah wilayah Kota Ambon. “Harapan kami distribusi tetap lancar. Kalau permintaan terus meningkat seperti sekarang tanpa ada penyesuaian, masyarakat akan semakin sulit mendapatkan minyak tanah,” tutupnya.